Apr 30, 2013

Batas Gerbang

29 Agustus 2007

Kutarik rok panjang hitamku ke bawah sehingga terlihat sedikit hipster, kurapikan kancing baju di pergelangan tangan, dan sedikit kubenahi letak dasiku. Sip..,kataku sambil berputar di depan cermin. Aku keluar dari kamar kost dan berjalan menuju samping gerbang calon kampusku. Ibuku mengikutiku di belakang sembari membawakan satu tas tenteng miliku. Sedangkan aku membawa sebuah koper merah yang besar. Beberapa potong baju sudah kusiapkan di dalamnya. Ibukupun tak lupa memasukkan selimut tebal untukku, ini Bogor, pasti dingin, katanya.

Calon teman seangkatanku sudah banyak yang berkumpul di samping gerbang. Barang bawaan mereka tak kalah banyak denganku. Koper, tas ransel, bibit pohon, nametag, dan koran  merupakan barang individu yang wajib dibawa.
Bibit pohon? Emmm..pasti nanti akan ada sesi penghijauan. Nametag? Iyalah pasti untuk tanda pengenal bagi kita calon mahasiswa yang akan diorientasi. Koran? Emm..untuk apa ya? Oh..kemah!!! Yak, pasti nanti akan ada acara kemah. Jadi koran dipake untuk alas kami tidur. Apalagi ada barang bersama berupa tongkat pramuka. Tendanya? mungkin sudah disiapkan panitia. Ahai!ada kemah..,asik nih. Apalagi sudah bawa selimut. Dijamin ngga kedinginan.
Pikirku.

Sanak keluarga masing-masing dari kami banyak juga yang ikut mengantarkan, termasuk aku. Kedua orang tuaku bersama seorang sopir bapakku ikut mengantarkanku hingga batas luar gerbang. Kucium punggung tangan kedua orang tuaku. Ada perasaan belum yakin ketika aku melangkah melewati batas gerbang. Inikah yang benar-benar aku inginkan? Tetapi sudah terlanjur basah, lebih baik aku nyebur sekalian. Selamat datang abu-abu..

Beberapa mahasiswa berseragam abu-abu sudah bersiap-siap di depan gerbang untuk mengarahkan kami masuk ke kampus. Oh.., mereka calon seniorku mungkin. Para pengantar hanya diperbolehkan mengantarkan hingga gerbang. Selanjutnya kami, para calon mahasiswa, atas arahan calon senior untuk memasukkan barang bawaan kami ke dalam minibus yang telah disediakan. Dalam sekejab, minibus sudah penuh oleh barang bawaan kami. 

Kami berbaris menjadi 3 berbanjar dan diarahkan menuju depan aula. Apel penerimaan calon mahasiswa dimulai. Kulihat beberapa mahasiswa berseragam berbaris di samping kanan kami. Sedangkan, sebelah kiri terdapat beberapa penyelenggara pendidikan. Kira-kira setengah jam kami berdiri, akhirnya apel selesai. Selang tak berapa lama, minibus yang mengangkut barang kami datang. Sebenarnya jarak dari gerbang ke depan aula tidak jauh. Hanya 200 meteran, tetapi supaya lebih praktis mungkin ya. Kami pun calon satu angkatan bahu-membahu memindahkan semua barang bawaan kami ke lantai dua aula.

:*

Apr 29, 2013

Jalanan kerikil itu...

Jarum pendek di jam tanganku berada di angka 5, hari sudah semakin senja. Kami calon mahasiswa secepat mungkin mengadakan koordinasi singkat karena masing-masing dari kami harus pulang dan segera mempersiapkan barang-barang yang harus kami bawa besok siang. Yel angkatan, ukuran nametag, jam kita kumpul, dan saling bertukar nomor telepon kami lakukan. Pukul 5 sore lebih, akhirnya kami selesai. Aku kembali ke kamar kost yang aku dan ibuku sewa. Selepas sholat maghrib, ibuku mengantarku ke pasar terdekat dari kampus. Jaraknya kira-kira 10 km. Aku tatap sejenak wajah ibuku. Kulihat raut muka ibuku yang begitu tulus mengantarkan aku. Kulihat tetesan keringatnya mengiringi perjalanan kami menuju pasar. Dalam lubuk hati yang terdalam, ingin rasanya mengucapkan permohonan maaf kepadanya. Aku merasa sampai detik itu aku belum cukup dewasa. Untuk membeli perlengkapan orientasiku saja aku harus diantar oleh ibuku. Apalagi membiarkan beliau duduk di kerasnya kursi angkot yang sesekali terasa semakin keras karena penumpang harus berkali-kali mengalami loncatan-loncatan kecil karena jalanan yang lebih layak aku sebut dengan sungai kering. Walaupun diaspal, tetapi akhirnyapun makin rusak. Mungkin karena sering dilewati mobil berat dan kontur tanahnya yang gembur sehingga makin mempercepat kerusakan jalan. Alhasil di sana-sini yang ada adalah bebatuan besar dan debu sehingga mau tak mau kami harus menutup hidung dan mulut kami supaya debu tidak terhirup.

 Ibuku yang setiap hari mengendarai mobil pribadi dengan udara di dalamnya sejuk dan sekarang harus berpanas-panas serta berdebu-debu ria? Oh Tuhan..., teganya aku. Namun, aku tau bahwa dari lubuk hatinya pasti beliau tetap senang karena sebentar lagi putrinya akan memasuki sekolah barunya. Kampusnya. Kampus yang hanya bisa ditembus jika lulus 6 tahapan tes. Bukan sesuatu yang mudah bagiku. Bahkan teringat kembali ketika ibuku membangunkanku subuh-subuh. Mengajakku sholat subuh dan mengantarkanku ke SMA ku. Pukul 5 pagi. Aku ingat betul. Saat itu ibu mengatur handphonenya ke menu stopwatch dan menekan tombol 'on'. Akupun lari mengelilingi lapangan bola di sekolahku. Dan ketika 12 menit telah berjalan, beliau memberiku kode dan akupun berhenti dari lari. Ingatanku kembali ke sana. Saat ibuku ikut 'melatih'ku untuk menghadapi tes kebugaran dan kesehatan. Bahkan sebelumnya, pada persiapan menghadapai psikotest, ibuku menuliskan sederet angka di bukuku hingga berlembar-lembar. Tujuannya adalah untuk melatihku mengerjakan tes paulin (salah satu materi dalam psikotest). Hal ini ibuku ketahui dari kakak kelasku yang tahun sebelumnya sudah diterima di kampus tersebut.

Depok depok depok...
Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan oleh suara abang-abang angkot di luar sana. Ternyata sudah sampai pasar. Ibu segera membayarkan 8 ribu dan kamipun turun. Beberapa lorong pasar kami susuri. Beberapa kali aku buka catatan barang yang harus aku bawa besok. Berderet nama barang kubaca satu per satu. Barang yang ada di pasar ini langsung aku beli. Selebihnya aku minta tolong calon teman seangkatan dan juga bapakku yang sedang dalam perjalanan menuju Bogor. Setelah aku rasa cukup, akhirnya kamipun pulang ke kost.
Jalanan kerikil itu wajib kami lalui kembali..
*bersama suara dangdut koplo dan bunyi bodi angkot seperti kaleng yang dilempari batu.

:*

Takdir yang (sebenarnya) aku pilih sendiri

Sombong, itu kesan calon teman-teman cewek seangkatanku. Bagaimana ngga? Yang lain asyik bermain tebak kata sambil menunggu pengarahan dari penyelenggara pendidikan (sebutan untuk pengurus pendidikan di kampusku), sedangkan aku hanya diam sembari melipat kedua lenganku di atas perut. Kulihat ornamen garuda yang terpampang gagah di layar panggung dalam aula besar tempat kami berkumpul. Ada yang asyik bermain handphone, ada yang sedang ngobrol, ada juga yang sedang duduk terdiam seperti yang aku lakukan.

Asyik juga mereka bermain tebak kata, pikirku. Akhirnya akupun bergabung dengan mereka. Tidak terlalu lama aku bermain, bosan juga aku. Huffft.... Dan akupun kembali melamun memandang kain hitam yang digunakan untuk background panggung. Pandangankuberalih ke sekeliling ruangan. Ruang aula yang terasa sangat besar karena saat itu hanya berisi 40 orang saja. Di setiap sudut ruang terdapat AC yang membuat udara di dalam ruangan berlantai 2 ini menjadi sejuk. Di ujung kanan belakang, tersedia fasilitas umum berupa kamar mandi perempuan dan laki-laki. di sisi kiri terdapat pintu yang mengarah keluar ruangan. Sedangkan, di bagian belakang tempat kami duduk, terdapat pintu utama yang terbuka lebar.

Ctak ctak ctak.., tiba-tiba terdengar suara sepatu dari arah pintu utama. Seorang wanita, kira-kira seumuran dengan kami memasuki ruangan. Dia langsung duduk dengan nafas tersengal-sengal. Ohh..dia calon teman seangkatanku juga ternyata. Kamipun mengerubunginya dengan sekadar berkenalan. Ternyata dia berasal dari Semarang dan alasan dia terlambat datang karena dia baru tau semalam kalau dia diterima. Pesawat paling pagi yang dia pesan adalah pukul 6.00 WIB dan sampailah di ujung Bogor ini pukul 11.00 WIB. Tidak lama kami bercengkrama, penyelenggara pendidikan masuk ke aula.  Beberapa pengarahan mereka berikan. Setelah pengarahan diberikan, secara bergantian kami melakukan pengukuran baju seragam mahasiswa yang nantinya akan kami pakai.
Yakinkah aku akan bersekolah di sini? Bersama orang-orang yang sekarang bersamaku?Orang-orang yang tidak kukenal sama sekali?
Pikiran itulah yang selalu bergelayut di otakku. Sampai detik itu, aku masih merasa belum mampu menerima takdir yang sebenarnya aku pilih sendiri. 

:*


Apr 26, 2013

Impian Si Anak SD

Ketika SD, aku sudah berpikiran untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi kedinasan yang nantinya akan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil dan dikembalikan ke daerah masing-masing. Sebagai anak yang masih bau kencur, aku sudah punya cita-cita hingga nanti berkeluarga. Sekolah di SD unggulan di sebuah kabupaten kecil, kemudian akan melanjutkan di SMP unggulan, dan selanjutnya melanjutkan di SMA yang menerapkan pendidikan semi militer dan bertempat di daerah Magelang, Jateng. Itulah yang menjadi angan-anganku saat itu. SMA yang pada saat itu sangat favorit dan terbukti unggul karena berhasil meluluskan putra putri bangsa dengan hasil yang sangat memuaskan dan rata-rata lulusannya berhasil menembus PTN,PTS, maupun PT Kedinasan dengan jurusan paling unggul di masing-masing universitas. Setelah lulus dari SMA impianku tersebut, aku akan melajutkan ke Perguruan Tinggi Kedinasan, yaitu IP*N. Selulusnya dari IP*N, aku akan bekerja di kabupatenku sendiri dan membangun rumah tangga di kota kelahiran sendiri. Sambil menjadi PNS, aku bisa menemani anakku setiap saat dan bisa meneruskan usaha bisnis kedua orang tuaku. Ketiga pekerjaan yang sekaligus bisa aku lakukan.

Namun, rencana masa depan yang aku bangun saat masih SD tersebut tidak sepenunya berjalan. Setelah lulus dari SMP unggulan di kotaku dengan hasil yang sangat memuaskan, aku tidak bisa melanjutkan ke SMA bermodel semi militer tersebut karena tidak mendapat restu dari orang tuaku. Padahal dari segi akademik, bisa jadi aku menjadi salah satu siswa di SMA tersebut karena record nilaiku dari kelas 1 hingga kelas 3 SMP hampir selalu masuk ranking 3 paralel di SMP (kalau tidak salah, hanya sekali tidak masuk dalam daftar 3 paralel). Ranking paralel merupakan ranking yang diberikan oleh sekolah untuk siswanya dalam satu tingkat kelas yang sama. Jadi, tidak hanya diranking dalam satu kelas, tetapi juga dalam 7 kelas dengan masing-masing kelas berisi kurang lebih 36 siswa. Dan pada saat itu pula aku salah satu murid di kelas unggulan. Nyaris, dalam sehari-hari yang aku tempuh adalah kegiatan akademik T.T .Ada waktu untuk mainnya juga sih, tetapi sepertinya lebih banyak belajar.

Tidak melanjutkan ke SMA impianku bukanlah menjadi hal yang menghalangiku untuk semangat menuntut ilmu. Di SMA yang juga paling unggul di kotaku, aku menemukan 2 sahabat terbaikku. Tak disangka, merekapun punya cita-cita yang sama denganku yaitu melanjutkan sekolah di IP*N. Ini berarti aku akan bersaing dengan 2 sahabatku sendiri karena satu kabupaten hanya diberikan kesempatan mengirimkan perwakilan sebanyak 4 orang yang terdiri atas 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Seiring berjalannya kehidupan di SMA, ternyata "calon" universitas kami tersebut tidak membuka pendaftaran pada tahun kami lulus nanti. #deg,, jantungku berdegup kencang dan tak terasa ada setitik air di ujung mataku (mungkin akibat genteng bocor). Apakah impian untuk melanjutkan di sekolah impianku akan gagal lagi? Yaaa..., dan takdirpun mengatakan demikian. Aku ngga bisa daftar maaaaakkkkkk.....!!!! Uhuk uhuk. Yasudahlah, takdir illahi. Daripada harus menunggu tahun berikutnya, akhirnya kami memutuskan mendaftar di UGM. 2 Sahabatku memilih jurusan akuntansi dan aku memilih kedokteran. Mereka diterima dan aku tidak...*nyesek. Predikat calon mahasiswa kedokteranpun aku dapatkan walaupun di sebuah PTS, tetapi memiliki FKU favorit.

Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku harus mengejar mimpiku yang dulu aku buat ketika SD. Atas tawaran teman, akhirnya aku mendaftar di sebuah PTK di Bogor. 6 tahap tes harus aku lalui. Dan dengan sabarnya ibuku selalu menemaniku. Setiap Sabtu sore kami harus naik bus dari kotaku dan tiba di Bogor pada Minggu pagi. Sebuah kamar kecil kami sewa dari rumah penduduk yang berlokasi di depan calon kampusku. Sehari kami istirahat, dan Senin pagi aku harus bersiap-siap untuk menghadapi tahapan tes. Jika pelaksanaan tes hanya sehari, maka Senin sore pun kami langsung bertolak ke kotaku menggunakan bus. Namun, bila pelaksanaan tes selama 2 hari, mau tak mau hari Selasa sore kami baru bisa pulang. Rutinitas menjalani perjalanan dari kotaku ke Bogor dan sebaliknya harus kami jalani hingga 6 kali.

Setelah melewati 6 tahap tes, tibalah pada hari dimana nama-nama calon mahasiswa diumumkan. Kenapa masih "calon", karena dalam masa orientasi nanti masih memungkinkan adanya calon mahasiswa yang gugur. Pagi itu aku mendapat sms dari temanku yang juga pernah mendaftar, tetapi sayangnya dia gugur di tahap kedua. Temanku itu sekaligus orang yang pertama kali memberitahu mengenai PTK ini dan mengajakku mendaftar bersama. Dalam smsnya, dia memberitahu bahwa aku diterima di PTK tersebut. Dengan setengah percaya dan setengah tidak, akupun pergi ke warnet untuk melihat langsung pengumuman akhir. Dan benar saja, akhirnya aku lulus. Kutinggalkan fakultas Kedokteran Umum dan kuputuskan untuk menjadi mahasiswa di PTK tersebut. Dari 1024 orang calon, 40 orang yang diterima yaitu 28 laki-laki dan 12 orang perempuan. Ya!! satu angkatanku ada 40 orang.


Ternyata impian Si Anak SD waktu itu sampai sejauh ini lumayan mirip-mirip tercapai...

Jalan yang aku tempuh sekarang pasti merupakan jalan terbaik yang Dia berikan. Tinggal aku jalanin dan meraih apa yang belum sempat tercapai. Aku pack beberapa baju dan perlengkapan lainnya dan pagi hari berikutnya aku bersama ibu kembali menunggangi bus reyot itu menuju Bogor. Antara sedih dan cukup senang..
:*

Apr 25, 2013

Jalan Penghubung Jalan


Jembatan gantung.

Captured by [c]EOS 550

Nafas Alam


Sebuah potret nafas bumi di Sungai Gendol, Yogyakarta.

d'BoroWood with [c]EOS 550
added watermark

The Proven


This is proof that no matter how powerful the eruption of Mount Merapi.
At "Sisa Hartaku" museum, Mount Merapi, Yogyakarta.

Captured by borowood with her [c]EOS 550

Edelweis di Lembah Merapi


Long weekend 3 hari yang cukup membuat fresh pikiran. Setelah berkutat di panasnya udara polusi kota metropolitan, akhirnya bisa juga menghirup sejuknya udara di lembah gunung Merapi, Yogyakarta. Hemmm...segarnya.. Rasa cape setelah perjalanan hampir 1,5 jam dari rumah menggunakan mobil pribadi terbayar sudah, walaupun hanya duduk menikmati perjalanan karena bapaklah yang menjadi pengemudinya :D dan ibu menjadi asisten pengemudi :p. 

Fiuh..indah sekali pemandangan di sekitar gunung Merapi. Dan yang paling seru adalah saat mengitari kawasan di Merapi dengan menggunakan jeep sewaan.Untuk menyewa satu jeep plus pengemudinya, kita cukup membayar Rp 250.000 dengan rute short (1 jam), Rp 350.000 dengan rute middle (2 jam), dan Rp 450.000 dengan rute long (3 jam). Satu jeep bisa mengangkut hingga 7 orang temasuk pengemudi. Sedangkan untuk sewa motor cross, hanya dengan membayar Rp 50.000 kita bisa berputar-putar di sekitar objek wisata alam Merapi. Sayangnya, karena aku bersama bapak dan ibu maka kami putuskan mengambil paket jeep yang rute middle. Tidak terbayang jika kami bertiga mengendarai motor cross, seru kali ya.

Beberapa objek telah kami kunjungi, dan akupun meminta mas-mas pengemudinya (sapa ya namanya, lupa T.T) untuk mengantarkan kami ke daerah taman edelweis. Sampailah kami di taman mungil edelweis. Yuhuuu...,akhirnya bisa juga melihat bunga edelweis secara langsung. Foto-foto,,foto-foto,,dan foto-foto.. ^^
Sambil refreshing, sambil kumpul ma bapak ibu, sambil latihan teknik makro fotografi. Dan hasil foto makronya tidak ada yang memuaskan.Keep study harrrrrdddd.

~End~