Apr 29, 2013

Takdir yang (sebenarnya) aku pilih sendiri

Sombong, itu kesan calon teman-teman cewek seangkatanku. Bagaimana ngga? Yang lain asyik bermain tebak kata sambil menunggu pengarahan dari penyelenggara pendidikan (sebutan untuk pengurus pendidikan di kampusku), sedangkan aku hanya diam sembari melipat kedua lenganku di atas perut. Kulihat ornamen garuda yang terpampang gagah di layar panggung dalam aula besar tempat kami berkumpul. Ada yang asyik bermain handphone, ada yang sedang ngobrol, ada juga yang sedang duduk terdiam seperti yang aku lakukan.

Asyik juga mereka bermain tebak kata, pikirku. Akhirnya akupun bergabung dengan mereka. Tidak terlalu lama aku bermain, bosan juga aku. Huffft.... Dan akupun kembali melamun memandang kain hitam yang digunakan untuk background panggung. Pandangankuberalih ke sekeliling ruangan. Ruang aula yang terasa sangat besar karena saat itu hanya berisi 40 orang saja. Di setiap sudut ruang terdapat AC yang membuat udara di dalam ruangan berlantai 2 ini menjadi sejuk. Di ujung kanan belakang, tersedia fasilitas umum berupa kamar mandi perempuan dan laki-laki. di sisi kiri terdapat pintu yang mengarah keluar ruangan. Sedangkan, di bagian belakang tempat kami duduk, terdapat pintu utama yang terbuka lebar.

Ctak ctak ctak.., tiba-tiba terdengar suara sepatu dari arah pintu utama. Seorang wanita, kira-kira seumuran dengan kami memasuki ruangan. Dia langsung duduk dengan nafas tersengal-sengal. Ohh..dia calon teman seangkatanku juga ternyata. Kamipun mengerubunginya dengan sekadar berkenalan. Ternyata dia berasal dari Semarang dan alasan dia terlambat datang karena dia baru tau semalam kalau dia diterima. Pesawat paling pagi yang dia pesan adalah pukul 6.00 WIB dan sampailah di ujung Bogor ini pukul 11.00 WIB. Tidak lama kami bercengkrama, penyelenggara pendidikan masuk ke aula.  Beberapa pengarahan mereka berikan. Setelah pengarahan diberikan, secara bergantian kami melakukan pengukuran baju seragam mahasiswa yang nantinya akan kami pakai.
Yakinkah aku akan bersekolah di sini? Bersama orang-orang yang sekarang bersamaku?Orang-orang yang tidak kukenal sama sekali?
Pikiran itulah yang selalu bergelayut di otakku. Sampai detik itu, aku masih merasa belum mampu menerima takdir yang sebenarnya aku pilih sendiri. 

:*


0 comments:

Post a Comment