Jarum pendek di jam tanganku berada di angka 5, hari sudah semakin senja. Kami calon mahasiswa secepat mungkin mengadakan koordinasi singkat karena masing-masing dari kami harus pulang dan segera mempersiapkan barang-barang yang harus kami bawa besok siang. Yel angkatan, ukuran nametag, jam kita kumpul, dan saling bertukar nomor telepon kami lakukan. Pukul 5 sore lebih, akhirnya kami selesai. Aku kembali ke kamar kost yang aku dan ibuku sewa. Selepas sholat maghrib, ibuku mengantarku ke pasar terdekat dari kampus. Jaraknya kira-kira 10 km. Aku tatap sejenak wajah ibuku. Kulihat raut muka ibuku yang begitu tulus mengantarkan aku. Kulihat tetesan keringatnya mengiringi perjalanan kami menuju pasar. Dalam lubuk hati yang terdalam, ingin rasanya mengucapkan permohonan maaf kepadanya. Aku merasa sampai detik itu aku belum cukup dewasa. Untuk membeli perlengkapan orientasiku saja aku harus diantar oleh ibuku. Apalagi membiarkan beliau duduk di kerasnya kursi angkot yang sesekali terasa semakin keras karena penumpang harus berkali-kali mengalami loncatan-loncatan kecil karena jalanan yang lebih layak aku sebut dengan sungai kering. Walaupun diaspal, tetapi akhirnyapun makin rusak. Mungkin karena sering dilewati mobil berat dan kontur tanahnya yang gembur sehingga makin mempercepat kerusakan jalan. Alhasil di sana-sini yang ada adalah bebatuan besar dan debu sehingga mau tak mau kami harus menutup hidung dan mulut kami supaya debu tidak terhirup.
Ibuku yang setiap hari mengendarai mobil pribadi dengan udara di dalamnya sejuk dan sekarang harus berpanas-panas serta berdebu-debu ria? Oh Tuhan..., teganya aku. Namun, aku tau bahwa dari lubuk hatinya pasti beliau tetap senang karena sebentar lagi putrinya akan memasuki sekolah barunya. Kampusnya. Kampus yang hanya bisa ditembus jika lulus 6 tahapan tes. Bukan sesuatu yang mudah bagiku. Bahkan teringat kembali ketika ibuku membangunkanku subuh-subuh. Mengajakku sholat subuh dan mengantarkanku ke SMA ku. Pukul 5 pagi. Aku ingat betul. Saat itu ibu mengatur handphonenya ke menu stopwatch dan menekan tombol 'on'. Akupun lari mengelilingi lapangan bola di sekolahku. Dan ketika 12 menit telah berjalan, beliau memberiku kode dan akupun berhenti dari lari. Ingatanku kembali ke sana. Saat ibuku ikut 'melatih'ku untuk menghadapi tes kebugaran dan kesehatan. Bahkan sebelumnya, pada persiapan menghadapai psikotest, ibuku menuliskan sederet angka di bukuku hingga berlembar-lembar. Tujuannya adalah untuk melatihku mengerjakan tes paulin (salah satu materi dalam psikotest). Hal ini ibuku ketahui dari kakak kelasku yang tahun sebelumnya sudah diterima di kampus tersebut.
Depok depok depok...
Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan oleh suara abang-abang angkot di luar sana. Ternyata sudah sampai pasar. Ibu segera membayarkan 8 ribu dan kamipun turun. Beberapa lorong pasar kami susuri. Beberapa kali aku buka catatan barang yang harus aku bawa besok. Berderet nama barang kubaca satu per satu. Barang yang ada di pasar ini langsung aku beli. Selebihnya aku minta tolong calon teman seangkatan dan juga bapakku yang sedang dalam perjalanan menuju Bogor. Setelah aku rasa cukup, akhirnya kamipun pulang ke kost.
Jalanan kerikil itu wajib kami lalui kembali..
*bersama suara dangdut koplo dan bunyi bodi angkot seperti kaleng yang dilempari batu.
:*
0 comments:
Post a Comment