Ketika SD, aku sudah berpikiran untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi kedinasan yang nantinya akan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil dan dikembalikan ke daerah masing-masing. Sebagai anak yang masih bau kencur, aku sudah punya cita-cita hingga nanti berkeluarga. Sekolah di SD unggulan di sebuah kabupaten kecil, kemudian akan melanjutkan di SMP unggulan, dan selanjutnya melanjutkan di SMA yang menerapkan pendidikan semi militer dan bertempat di daerah Magelang, Jateng. Itulah yang menjadi angan-anganku saat itu. SMA yang pada saat itu sangat favorit dan terbukti unggul karena berhasil meluluskan putra putri bangsa dengan hasil yang sangat memuaskan dan rata-rata lulusannya berhasil menembus PTN,PTS, maupun PT Kedinasan dengan jurusan paling unggul di masing-masing universitas. Setelah lulus dari SMA impianku tersebut, aku akan melajutkan ke Perguruan Tinggi Kedinasan, yaitu IP*N. Selulusnya dari IP*N, aku akan bekerja di kabupatenku sendiri dan membangun rumah tangga di kota kelahiran sendiri. Sambil menjadi PNS, aku bisa menemani anakku setiap saat dan bisa meneruskan usaha bisnis kedua orang tuaku. Ketiga pekerjaan yang sekaligus bisa aku lakukan.
Namun, rencana masa depan yang aku bangun saat masih SD tersebut tidak sepenunya berjalan. Setelah lulus dari SMP unggulan di kotaku dengan hasil yang sangat memuaskan, aku tidak bisa melanjutkan ke SMA bermodel semi militer tersebut karena tidak mendapat restu dari orang tuaku. Padahal dari segi akademik, bisa jadi aku menjadi salah satu siswa di SMA tersebut karena record nilaiku dari kelas 1 hingga kelas 3 SMP hampir selalu masuk ranking 3 paralel di SMP (kalau tidak salah, hanya sekali tidak masuk dalam daftar 3 paralel). Ranking paralel merupakan ranking yang diberikan oleh sekolah untuk siswanya dalam satu tingkat kelas yang sama. Jadi, tidak hanya diranking dalam satu kelas, tetapi juga dalam 7 kelas dengan masing-masing kelas berisi kurang lebih 36 siswa. Dan pada saat itu pula aku salah satu murid di kelas unggulan. Nyaris, dalam sehari-hari yang aku tempuh adalah kegiatan akademik T.T .Ada waktu untuk mainnya juga sih, tetapi sepertinya lebih banyak belajar.
Tidak melanjutkan ke SMA impianku bukanlah menjadi hal yang menghalangiku untuk semangat menuntut ilmu. Di SMA yang juga paling unggul di kotaku, aku menemukan 2 sahabat terbaikku. Tak disangka, merekapun punya cita-cita yang sama denganku yaitu melanjutkan sekolah di IP*N. Ini berarti aku akan bersaing dengan 2 sahabatku sendiri karena satu kabupaten hanya diberikan kesempatan mengirimkan perwakilan sebanyak 4 orang yang terdiri atas 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Seiring berjalannya kehidupan di SMA, ternyata "calon" universitas kami tersebut tidak membuka pendaftaran pada tahun kami lulus nanti. #deg,, jantungku berdegup kencang dan tak terasa ada setitik air di ujung mataku (mungkin akibat genteng bocor). Apakah impian untuk melanjutkan di sekolah impianku akan gagal lagi? Yaaa..., dan takdirpun mengatakan demikian. Aku ngga bisa daftar maaaaakkkkkk.....!!!! Uhuk uhuk. Yasudahlah, takdir illahi. Daripada harus menunggu tahun berikutnya, akhirnya kami memutuskan mendaftar di UGM. 2 Sahabatku memilih jurusan akuntansi dan aku memilih kedokteran. Mereka diterima dan aku tidak...*nyesek. Predikat calon mahasiswa kedokteranpun aku dapatkan walaupun di sebuah PTS, tetapi memiliki FKU favorit.
Tidak melanjutkan ke SMA impianku bukanlah menjadi hal yang menghalangiku untuk semangat menuntut ilmu. Di SMA yang juga paling unggul di kotaku, aku menemukan 2 sahabat terbaikku. Tak disangka, merekapun punya cita-cita yang sama denganku yaitu melanjutkan sekolah di IP*N. Ini berarti aku akan bersaing dengan 2 sahabatku sendiri karena satu kabupaten hanya diberikan kesempatan mengirimkan perwakilan sebanyak 4 orang yang terdiri atas 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Seiring berjalannya kehidupan di SMA, ternyata "calon" universitas kami tersebut tidak membuka pendaftaran pada tahun kami lulus nanti. #deg,, jantungku berdegup kencang dan tak terasa ada setitik air di ujung mataku (mungkin akibat genteng bocor). Apakah impian untuk melanjutkan di sekolah impianku akan gagal lagi? Yaaa..., dan takdirpun mengatakan demikian. Aku ngga bisa daftar maaaaakkkkkk.....!!!! Uhuk uhuk. Yasudahlah, takdir illahi. Daripada harus menunggu tahun berikutnya, akhirnya kami memutuskan mendaftar di UGM. 2 Sahabatku memilih jurusan akuntansi dan aku memilih kedokteran. Mereka diterima dan aku tidak...*nyesek. Predikat calon mahasiswa kedokteranpun aku dapatkan walaupun di sebuah PTS, tetapi memiliki FKU favorit.
Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku harus mengejar mimpiku yang dulu aku buat ketika SD. Atas tawaran teman, akhirnya aku mendaftar di sebuah PTK di Bogor. 6 tahap tes harus aku lalui. Dan dengan sabarnya ibuku selalu menemaniku. Setiap Sabtu sore kami harus naik bus dari kotaku dan tiba di Bogor pada Minggu pagi. Sebuah kamar kecil kami sewa dari rumah penduduk yang berlokasi di depan calon kampusku. Sehari kami istirahat, dan Senin pagi aku harus bersiap-siap untuk menghadapi tahapan tes. Jika pelaksanaan tes hanya sehari, maka Senin sore pun kami langsung bertolak ke kotaku menggunakan bus. Namun, bila pelaksanaan tes selama 2 hari, mau tak mau hari Selasa sore kami baru bisa pulang. Rutinitas menjalani perjalanan dari kotaku ke Bogor dan sebaliknya harus kami jalani hingga 6 kali.
Setelah melewati 6 tahap tes, tibalah pada hari dimana nama-nama calon mahasiswa diumumkan. Kenapa masih "calon", karena dalam masa orientasi nanti masih memungkinkan adanya calon mahasiswa yang gugur. Pagi itu aku mendapat sms dari temanku yang juga pernah mendaftar, tetapi sayangnya dia gugur di tahap kedua. Temanku itu sekaligus orang yang pertama kali memberitahu mengenai PTK ini dan mengajakku mendaftar bersama. Dalam smsnya, dia memberitahu bahwa aku diterima di PTK tersebut. Dengan setengah percaya dan setengah tidak, akupun pergi ke warnet untuk melihat langsung pengumuman akhir. Dan benar saja, akhirnya aku lulus. Kutinggalkan fakultas Kedokteran Umum dan kuputuskan untuk menjadi mahasiswa di PTK tersebut. Dari 1024 orang calon, 40 orang yang diterima yaitu 28 laki-laki dan 12 orang perempuan. Ya!! satu angkatanku ada 40 orang.
Setelah melewati 6 tahap tes, tibalah pada hari dimana nama-nama calon mahasiswa diumumkan. Kenapa masih "calon", karena dalam masa orientasi nanti masih memungkinkan adanya calon mahasiswa yang gugur. Pagi itu aku mendapat sms dari temanku yang juga pernah mendaftar, tetapi sayangnya dia gugur di tahap kedua. Temanku itu sekaligus orang yang pertama kali memberitahu mengenai PTK ini dan mengajakku mendaftar bersama. Dalam smsnya, dia memberitahu bahwa aku diterima di PTK tersebut. Dengan setengah percaya dan setengah tidak, akupun pergi ke warnet untuk melihat langsung pengumuman akhir. Dan benar saja, akhirnya aku lulus. Kutinggalkan fakultas Kedokteran Umum dan kuputuskan untuk menjadi mahasiswa di PTK tersebut. Dari 1024 orang calon, 40 orang yang diterima yaitu 28 laki-laki dan 12 orang perempuan. Ya!! satu angkatanku ada 40 orang.
Ternyata impian Si Anak SD waktu itu sampai sejauh ini lumayan mirip-mirip tercapai...
Jalan yang aku tempuh sekarang pasti merupakan jalan terbaik yang Dia berikan. Tinggal aku jalanin dan meraih apa yang belum sempat tercapai. Aku pack beberapa baju dan perlengkapan lainnya dan pagi hari berikutnya aku bersama ibu kembali menunggangi bus reyot itu menuju Bogor. Antara sedih dan cukup senang..
:*
0 comments:
Post a Comment