Hastagahhh...
mau ngerjain tesis malah nulis beginian. Tak apalah, sekadar ngobatin rasa kangen buat nulis.Hha
long time ago..
Langit masih biru..
Semua cama cami memandang ke arah langit. Cerah. Biru muda. Dar der doooor ...!!! bunyi petasan seperti orang kawinan mulai sahut-sahutan.Tiba-tiba pandangan mulai hitam. Selembar kain hitam sudah terikat melingkari kepala dan melewati kedua mata. Yang ada hanya gelap dan teriakan senior. Dengan berjalan jongkok mengikuti arahan senior kami seangkatan dibawa ke sebuah aula tempat kami berkumpul pertama kalinya sebagai satu angkatan. Dingin, udara AC menerpa. Kain hitam satu persatu dilepaskan.
Barisan orang-orang yang duduk melingkari kami, menatap tajam. Ada yang berseragam abu-abu dengan hiasan pundak yang berwarna-warni, ada yang memakai batik, ada yang memakai baju dinas lainnya. Ada yang seumuran dengan orang tuaku, pakdhe, om, bahkan kakak-ku. Tak ada satu senyumpun yang mereka persembahkan bagi kami para pendatang. Layaknya penduduk baru, mereka menyambut kami. Sambutan yang sangat berbeda dari yang umumnya.
Sebuah buku dengan sampul plastik berwarna hijau mereka bagikan kepada kami sekaligus dengan sebuah pulpen merk "biasa". Jumlah buku yang dibagikan tidak sesuai dengan jumlah anggota angkatan kami, begitu pula dengan jumlah pulpen. Semua berebut, umeg, riweh. Suara teriakan senior dimana-mana. Priiiiittt....! bunyi panjang peluit yang dibunyikan oleh satu orang di tengah-tengah kami. Orang itu menenteng sebuah toa. Semua diam. Suasana sejenak sepi. Kulihat sekelilingku. Yes! Aku kebagian. Orang ber-toa itu kembali memecah suasana.
"Siapa yang sudah dapat buku...?"
Beberapa diantara kami mengangkat tangan. Ada beberapa cewek yang belum dapat buku itu. Makin kugenggam buku hijau itu.
"Kalian yang lelaki!! Kalian lebih mementingkan diri kalian ketimbang yang perempun?!!"teriaknya.
Bergegas cowok-cowok itu memberikan buku hijaunya ke para cewek yang belum dapat.
*blug...blug...blug...*
Beberapa buku hijau jatuh dari atas.
Kami berupaya mengambil buku tersebut untuk diberikan kepada yang belum punya.
Hingga semua dari kami, 40 orang, memegang erat satu-satu.
Kami dekap di depan dada, takut jatuh dan hilang karena sekarang itu adalah buku suci kami.
~ca~