Dec 31, 2013

Spot Snorkling di Pulau Liukang Loe

Masih seputar Pulau Liukang Loe..
Kalau Anda pergi berwisata ke Pulau Liukang Loe, sempatkanlah untuk bersnorkling ria di sekeliling pulau tersebut. Terumbu karang di sekitar Pulau sangat cantik untuk dinikmati. Namun sayang, jumlah ikan hias yang lalu lalang kurang banyak. But, this is so great for my first snorkling.. :)

candid by : [c]EOS 550D

candid by : [c]EOS 550D

Saran bagi Anda yang akan bepergian ke Pulau Liukang Loe:
1. Sebaiknya jangan pada saat musim air laut pasang;
2. Selalu memakai jaket pelampung pada saat menyeberang karena pengalaman saya, pada saat menyeberang kapal oleng. Ingat, jalur yang dilalui adalah jalur pertemuan arus, jadi gelombang datang dari segala arah;
3. Sempatkan makan di rumah makan seafood di Pulau Liukang Loe, mangstaabbb..

Menikmati Tanjung Bira dan Pulau Liukang Loe

Pernah mendengar Pulau Liukang Loe? Saya rasa masyarakat traveller apalagi masyarakat Sulawesi Selatan sudah tidak asing lagi dengan nama pulau tersebut. Namun, jika ada yang belum mengetahui, saya berikan info bahwa Pulau Liukang Loe adalah salah satu pulau yang terletak di ujung selatan Sulawesi Selatan, tepatnya di ujung kaki "K". Jika kita ingin ke Pulau tersebut, kita bisa menyewa sebuah perahu dan menyeberang dari tanjung bira menuju Pulau Liukang Loe.

Perjalanan dari tanjung Bira ke Pulau ditempuh sekitar 20 menit menggunakan perahu nelayan yang saya sewa. Sedangkan untuk menuju ke Tanjung Bira (Kabupaten Bulukumba), harus menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam menggunakan mobil pribadi dari Kota Makassar.


View Larger Map
View Larger Map

Letak Tanjung Bira nampak pada peta di atas. Yah..lumayan jauh untuk perjalanan darat, tetapi semuanya akan terbayar dengan lukisan indah yang akan didapatkan. Di Tanjung Bira kita bisa menikmati sunset dan keindahan pasir putihnya.

Atas Nama Buku Hijau

Saya belajar banyak hari itu, atas nama buku suci. Buku bersampul hijau yang menjadi awal guru kami, yang mengajarkan kami bagaimana mengahargai yang lebih tua, menghargai kaum wanita, dan mengenalkan arti persaudaraan, bukan sekadar persahabatan atau pertemanan. Dan kini buku hijau itu telah menjadi sejarah bagi kami, telah berlalu selama 6 tahun lebih. Empat tahun kebersamaan yang (buat saya) sangat berarti, tetapi tidak membuat saya ingin merasakan kembali saat-saat itu. Karena biar bagaiamanapun, dunia kerja lebih membuat saya tenang daripada masa pendidikan dahulu.

Masa kampus yang bermetodekan asrama membuat jarak saya dengan keluarga sejauh ratusan kilometer. Namun, dari jarak itulah saya kembali belajar arti hidup. Bagaimana hidup lebih mandiri dari sebelumnya dan dibandingkan dengan kedua kakak saya. Saya memang tidak lebih unggul dari teman-teman yang lain karena saya tahu bahwa masih banyak teman, senior, maupun junior yang memiliki perjuangan jauh lebih berat ketimbang saya. Namun, setidaknya saya belajar bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya selama ini...hingga 4 tahun pendidikan itu berlalu dengan hasil yang memuaskan bagi saya dan orang tua saya.

Sekarang yang menjadi target jangka pendek saya adalah menyelesaikan thesis untuk memperoleh gelar Magister Manajemen. Ini bukan sekadar untuk masa depan karir saya, tetapi jauh di lubuk hati saya adalah ingin memberikan contoh bagi keturunan saya kelak bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer dalam hidup. Selain itu pula, saya ingin membuat kedua orang tua saya lebih bangga lagi kepada anak-anaknya. Alhamdulillah..tinggal selangkah lagi saya menuju garis finish pasca sarjana. :)
Mudah-mudahan mendapat hasil yang tidak kalah memuaskan dibandingkan dengan kelulusan sarjana saya. Amiin..

Dec 13, 2013

Memulai dengan yang baru..

Setiap hari yang kita jalani merupakan ukiran sejarah yang tidak akan pernah terulang kembali. Detik demi detik merupakan kejadian yang unik. Entah itu menyenangkan, menyedihkan,membosankan, memuakkan, mengharukan, membahagiakan, membanggakan, dan lain sebagainya, yang jelas ada positif dan negatifnya. Yang perlu saya ingat adalah bahwa semua itu adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa. Jadi, apapun yang terjadi di masa lampau tak perlu saya sesali, cukup dijadikan cerminan untuk perbaikan ke depan.

Atas dasar "sejarah" itu, saya sering merenung. Apa yang belum saya kerjakan dan apa yang sudah saya kerjakan. Salah satunya adalah masalah "hati". Satu kata ini cukup menggelitik saya karena kadang sukar untuk didefinisikan. Bagi saya, ketika sudah tidak ada kesesuaian dengan "sang pemilik hati", dan usaha juga sudah dilakukan maka bersabarlah yang menjadi senjata terakhir. Bersabar bukan berarti diam dalam keadaan yang sedang terjadi, melainkan melatih diri untuk lebih bijak dan tidak selalu menggunakan perasaan dalam bertindak. Gunakanlah perasaan dan logika, maka kolaborasi indah akan tercipta.

Ada kalanya ketika bersabarpun, sebuah solusi tak kunjung datang. Entah hati yang terkalahkan oleh logika atau memang takdir yang berbicara. Kalau memang takdir yang berbicara, apa salahnya mengakhiri ini dan memulai dengan yang baru. Memulai dengan pribadi yang lebih baik.. :)

Alamat Coto Nusantara Makassar


Karena ada yang bertanya di mana alamat Coto Nusantara Makassar, maka saya beri link-nya nih. Semoga bermanfaat. #loveindonesia


View Larger Map 



Kemegahan..

Salah satu yang membuat saya kagum kita mengelilingi Sulawesi Selatan adalah banyaknya mesjid-mesjid megah di hampir setiap 300 meter. Tidak seperti di Pulau Jawa yang kadang hanya terdapat mushola dengan kubah mini, di Sulawesi Selatan banyak sekali bangunan mesjid dengan kubahnya yang besar dan mewah. Memang tidak heran jika pemandangan itu terjadi karena sejarah mengatakan bahwa Sulawesi Selatan dulunya merupakan cikal bakal kerajaan Islam. Mesjid yang sempat saya kunjungi dan foto antara lain mesjid Al-Markas di kabupaten Maros, mesjid Agung Makassar, dan mesjid Al-Markas di Kota Makassar.

Mesjid Agung, Makassar

with [c]EOS 550D
:)


Dec 12, 2013

Film "Up"


sumber: www.youtube.com

Pernah menonton film "Up"? Ini salah satu film animasi favorit saya. Menceritakan sepasang kekasih yang akhirnya menikah dan membangun rumah tangga hingga kakek nenek. Sayangnya, mereka tidak dikarunia anak satu orangpun. Namun, yang membuat salut adalah ikatan kasih sayang antara mereka dan keromantisan yang selalu mereka jaga satu sama lain. Hingga suatu ketika sang nenek nenek meninggal dunia dengan meninggalkan cita-citanya, yaitu membangun rumah di atas bukit. Dan kakekpun berusaha menerbangkan rumah tempat tinggal mereka ke bukit yang diimpikan nenek dengan menggunakan sekumpulan balon udara. Film yang sangat menginspirasi.. :)

Satu tahap menuju pendewasaan..



Ketika kita berbicara mengenai kedewasaan, yang ada di benak saya tentunya bukanlah hanya kaitannya dengan umur. Saya pikir, kedewasaan lebih ke arah pola pikir seseorang. Bagaimana dia merencanakan jalan hidupnya, bagaimana dia menentukan jalurnya secara jangka panjang. Yang dia pikirkan adalah "nanti bagaimana". Dan ungkapan yang sebetulnya paling saya tidak suka adalah "let it flow". Ungkapan yang menurut saya hanya sebuah tameng untuk menutupi ketidaktahuan arah hidupnya. Yah..walaupun saya kadang juga menggunakan kalimat itu, padahal hanya untuk menutupi rencana hidup saya ke orang lain karena tidak semua hal perlu saya sampaikan ke orang lain. Atau mungkin, orang yang menggunakan kalimat tersebut juga sama halnya dengan saya ya?Hanya untuk menutupi saja.

Kembali ke masalah dewasa yang tidak selalu ditentukan oleh umur, ada satu tahapan yang saya yakin semua orang juga sering mengalaminya. Masalah. Ya, ketika menghadapi masalah saat itulah proses pendewasaan seseorang sedang berjalan. Dengan masalah tersebut, manusia diijinkan untuk berpikir dan lebih merenung mengenai flow bagaimana masalah itu muncul hingga ada solusi. Masalah memberikan banyak pelajaran dan tentunya butuh analisis yang nanti dapat mengantarkan seseorang untuk dapat mengatasinya dan tidak mengulang kesalahan yang sama hingga masalah muncul.

Ragam masalah tentunya sangat bermacam-macam dan juga menimpa segala jenjang usia, dari bayi hingga orang tua. Bayi mengalami masalah ketika dia belum dapat berjalan sendiri, berbicara, serta melakukan aktivitas sendiri yang akhirnya membawanya secara naluri untuk belajar melakukan hal tersebut. Anak ABG mengalami masalah persahabatan, pendidikan, dan percintaan. Orang tua mengalami masalah keuangan, keluarga, dan lain sebagainya. Yang jelas, masalah tidak memandang usia. Dan yang paling penting, definisi masalah yang saya jabarkan di sini lebih kepada hal-hal yang membuat kita tidak nyaman dan perlu suatu penyelesaian (bukan definisi secara ilmiah seperti di penulisan ilmiah).

Pada intinya, dari masalah kita menjadi lebih belajar, lebih bijak, dan akhirnya menjadi batu loncatan kita untuk satu langkah lagi menuju pendewasaan. Termasuk cinta.. :)

Al-Markas


[c]EOS 550D
Mesjid Agung Al-Markas, Kab. Maros, Sulawesi Selatan
~ca~

999



999 ini merupakan tempat makan di kawasan Pantai Losari, tepatnya di samping gerbang Kawasan Kuliner Makassar. Tempat makan ini menghidangkan makanan andalan berupa seafood, nasi kuning, es pisang ijo, dan palu bitung. Saya dating ke sini dengan niat mencoba es pisang ijo dan palu bitung. Sebelumnya saya sudah mencoba es pisang ijo yang dijajakan di restoran Ayam Sulawesi. Dan setelah saya coba, ternyata es pisang ijo di 999 lebih enak dari es pisang ijo yang sebelum-sebelumnya pernah saya coba (Jakarta,Bogor). Untuk satu porsi dihargai dengan Rp 14.000,-.

Satu porsi berisi satu buah pisang dan besar, malah ukuran yang sangat besar bagi saya secara sebelumnya saya sudah menyantap satu porsi Mie Titi.

Beralih dari es pisang ijo, saya cicipi pula es palu bitung. Sebenarnya sama saja isinya, hanya tidak ada lapisan ijo pada pisangnya dan pisang dipotong kecil seperti kalau kita membuat minuman kolak. Selebihnya sama. Ada serutan es batu, bubur putih, susu putih kental manis, dan terakhir siraman sirup warna pink (mungkin cocopandan).


Harga satu porsinya sama dengan es pisang ijo yaitu Rp 14.000,-
Kedua es ini enak, dan saran saya , Anda menikmatinya dalam kondisi belum kenyang.
Selamat mencoba dan #loveindonesia.

Mie Titi

Makanan selanjutnya yang paling dicari oleh pelancong di Makassar adalah Mie Titi. Tempat makan yang saya kunjungi saat itu adalah adalah Mie Titi di kawasan kuliner Makassar tepatnya di Jalan Datu Museng, masih kawasan Pantai Losari. Mie ini disajikan lain dari pada yang lain. Kalau Anda termasuk generasi 1990-an, pasti pernah makan jajanan sekolah ber-merk “fujimie”. Yak, mie titi mirip dengan fujimie hanya saja lebih panjang. Yang membuat unik adalah penyajiannya. Mie kriuk tersebut disiram dengan bumbu kental dengan rasa agak gurih dan ditambahn dengan sayuran. Jadi, sensasinya adalah kriuk-kriuk gimana gitu. Dari beberapa blog yang saya baca sebelum saya melenggang ke Makassar, mengatakan bahwa mie ini enak. Namun, menurut saya pribadi, saya kurang suka ketika menyantapnya apalagi bila bumbu kental sudah sepenuhnya tercampur dengan mie sehingga membuat mie menjadi lembek-lembek agak kriuk. Terlepas dari selera saya tersebut, setidaknya saya puas sudah bisa merasakan kenikmatan Mie Titi yang sohor di kalangan para penikmat kuliner Indonesia. #loveindonesia.

                                                    Mie Titi siap disantap

Dec 11, 2013

Another butterfly


Masih di bantimurung, dan dengan sahabat setia saya [c]eos 550 :)

Berbeda itu indah..


with canon [c]EOS 550, 70-300mm
Bantimurung

My name is yellow..


Aku paling bersinar di antara yang lain..
Namaku yellow..

Dia dan dia


Captured by 70-300mm and [c]eos 550
At Bantimurung, South Sulawesi.

Coto Nusantara = Coto Makassar

Ada yang bilang jika kita belum dikatakan ke Makassar kalau belum makan coto Makassar. Yah, saya salah satu yang mengungkapkan kalimat tersebut. Walaupun di Jakarta juga ada restoran yang menyajikan hidangan coto Makassar, tetapi saya tetap penasaran dengan makanan khas kota Makassar. Pasti aka nada sensasi yang berbeda.

Coto Makassar yang paling terkenal di adalah Coto Nusantara. Letaknya di jalan Nusantara. Kalau dari bandara, kita keluar tol kemudian ambil arah kiri atau ke arah kota. Setelah melewati pelabuhan (sebelah kanan), lurus dikit lagi maka kita akan menemukan warung Coto Nusantara. Warungnya berupa bangunan tua, dan sedikit kuno. Ada beberapa bagian dinding yang berwarna hitam, mungkin terkena asap dari tungku yang digunakan. Memasaknya memang masih menggunakan tungku.

 Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto penampakan coto nusantara karena kondisi warung memang sangat padat dan membuat saya kegerahan. Mau gerak di kursi saja susah, apalagi mengeluarkan DSLR dari tas kamera saya. Saking ramenya, kami bisa makan semeja dengan orang tak dikenal. Bahkan ada beberapa rombongan yang rela menunggu di samping meja. Mau ngga mau saya harus cepat-cepat menyantapnya. Menurut saya, rasa kuah cotonya kurang asin. Malah bisa dibilang rasanya plain. Tetapi kenapa banyak yang dating ya? Hemm..apa memang cita rasa makanan Makassar tidak ada rasa asinnya? Akhirnya saya tambahin sendiri dengan sesendok garam. Sedangkan, saya melihat Pak Alwi menuangkan 3 sendok garam ke mangkok cotonya. Kata Pak Alwi, memang cotonya tidak dikasih garam (mungkin dikasih tetapi hanya sedikit) oleh pedagangnya. Oleh karena itu, di masing-masing meja telah disiapkan garam untuk para pelanggannya.

 cuma ini yang berhasil saya foto

Good bye Sultan (while...)

Sekitar dua setengah jam perjalanan saya tempuh menuju Makassar. Jam tangan saya menunjukkan pukul 9.00. Namun, itu masih jam waktu di Jakarta. Itu artinya, di Makassar pukul 10.00. Saya turun dari pesawat dan bergegas ke baggage claim. Kesan pertama melihat dan merasakan suasana Bandara Sultan Hasanudin adalah luas dan sepi. Secara fisik bangunan, bandara ini bagus dengan arsitektur lengkungan yang unik. Namun, tak nampak hiruk pikuk orang yang hendak bepergian. Mungkin untuk jam segini masih sepi jam penerbangan, piker saya. Sesampainya di baggage claim, saya bertambah kaget karena suasan benar-benar sepi. Hanya ada 3 orang yang sedang menunggu barang. Dengan mudahnya saya mengambil koper saya.

Tiba-tiba telepon berdering dan ternyata dari tour guide saya, Pak Alwi namanya. Beliau sudah menunggu dari sekitar setengah jam yang lalu. Pesawat memang delay karena kondisi “macet” di Bandara Soekarno Hatta. Pak Alwi kemudian membawakan koper saya dan mengantarkan saya dan teman saya ke mobilnya. Wuss..kami tinggalkan “Sultan Hasanudin” menuju belahan yang lain.

Koper dan Pesawat


Kalo biasanya orang memilih tas ransel untuk bepergian ala backpacker, kali ini saya memilih koper untuk pergi menjelajah bagian selatan Pulau Sulawesi. Pilihan koper saya rasa tepat karena memang saya tidak berencana untuk liburan ala backpacker, tetapi saya akan dinas mulai hari Selasa. Jadi, taka da salahnya jika saya pergi mendahului yaitu berangkat hari minggu subuh dan berencana liburan terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas. Alokasi dinas memang dari hari Senin s.d. Minggu dan teman-teman yang lain memilih berangkat hari Senin sedangkan kegiatan baru mulai hari Selasa. Taka da yang salah kan kalau saya mendahului? Karena biaya menginap juga ditanggung sendiri dan tentunya saya tidak membolos kerja :)

Dengan penerbangan GA saya berangkat menuju kota asal pahlawan Sultan Hasanudin. Suasana take off pagi itu cukup membuat saya jemu karena harus menunggu antrian pesawat yang akan melakukan take off. Semula yang dijadwalkan pukul 05.50, akhirnya pesawat baru bisa take off pukul 06.30. Crowded sekali pagi itu. 


Terlihat barisan awan putih di sisi kanan saya.  Walaupun tidak seindah biasanya, bagi saya tetap menakjubkan. Lukisan Illahi yang tetap selalu membuat saya bersyukur masih dapat menikmatinya. Dan yang selalu membuat saya bangga dan kagum adalah penemu moda transportasi yang sedang saya tumpangi saat itu. Burung bermesin yang dapat membawa kita terbang kemana saja. Ingatan saya kembali ke jaman SD ketika saya membaca dan menonton film sejarah penemu pesawat terbang, yaitu Wright bersaudara. Karena ingatan saya yang volatile, maka searching-lah saya ke mas google untuk kembali mengingatkan lebih dalam lagi mengenai Wright bersaudara.


Wright bersaudara yaitu Orville dan Wilbur merupakan dua orang Amerika yang telah tercatat sebagai penemu pesawat terbang. Mereka berhasil membangun pesawat terbang yang pertama kali berhasil diterbangkan dan dikendalikan oleh manusia pada tanggal 17 Desember 1903. Dua tahun setelah penemuan mereka, Wright bersaudara mengembangkan mesin terbang ke bentuk pesawat terbang yang memakai sayap seperti yang kita kenal sekarang dengan pesawat terbang. Walaupun mereka bukan orang yang pertama membuat eksperimen mengenai pesawat terbang, tetapi Wright bersaudara adalah orang pertama yang menemukan kendali pesawat sehingga pesawat terbang dengan sayapnya yang kaku tersebut dapat dikendalikan untuk terbang. Menurut sumber yang saya baca, penemu pertama kali mengenai konsep “pesawat terbang” adalah  Abbas Ibn Firnas pada tahun 875 karena terinspirasi dengan burung yang bisa terbang di udara.


 Foto : Wright bersaudara

Oct 31, 2013

Sambutan "Hangat"


Hastagahhh...
mau ngerjain tesis malah nulis beginian. Tak apalah, sekadar ngobatin rasa kangen buat nulis.Hha

long time ago..

Langit masih biru..
Semua cama cami memandang ke arah langit. Cerah. Biru muda. Dar der doooor ...!!! bunyi petasan seperti orang kawinan mulai sahut-sahutan.Tiba-tiba pandangan mulai hitam. Selembar kain hitam sudah terikat melingkari kepala dan melewati kedua mata. Yang ada hanya gelap dan teriakan senior. Dengan berjalan jongkok mengikuti arahan senior kami seangkatan dibawa ke sebuah aula tempat kami berkumpul pertama kalinya sebagai satu angkatan. Dingin, udara AC menerpa. Kain hitam satu persatu dilepaskan.

Barisan orang-orang yang duduk melingkari kami, menatap tajam. Ada yang berseragam abu-abu dengan hiasan pundak yang berwarna-warni, ada yang memakai batik, ada yang memakai baju dinas lainnya. Ada yang seumuran dengan orang tuaku, pakdhe, om, bahkan kakak-ku. Tak ada satu senyumpun yang mereka persembahkan bagi kami para pendatang. Layaknya penduduk baru, mereka menyambut kami. Sambutan yang sangat berbeda dari yang umumnya.

Sebuah buku dengan sampul plastik berwarna hijau mereka bagikan kepada kami sekaligus dengan sebuah pulpen merk "biasa". Jumlah buku yang dibagikan tidak sesuai dengan jumlah anggota angkatan kami, begitu pula dengan jumlah pulpen. Semua berebut, umeg, riweh. Suara teriakan senior dimana-mana. Priiiiittt....! bunyi panjang peluit yang dibunyikan oleh satu orang di tengah-tengah kami. Orang itu menenteng sebuah toa. Semua diam. Suasana sejenak sepi. Kulihat sekelilingku. Yes! Aku kebagian. Orang ber-toa itu kembali memecah suasana.

"Siapa yang sudah dapat buku...?"
Beberapa diantara kami mengangkat tangan. Ada beberapa cewek yang belum dapat buku itu. Makin kugenggam buku hijau itu.
"Kalian yang lelaki!! Kalian lebih mementingkan diri kalian ketimbang yang perempun?!!"teriaknya.
Bergegas cowok-cowok itu memberikan buku hijaunya ke para cewek yang belum dapat.

*blug...blug...blug...*
Beberapa buku hijau jatuh dari atas.
Kami berupaya mengambil buku tersebut untuk diberikan kepada yang belum punya.
Hingga semua dari kami, 40 orang, memegang erat satu-satu.
Kami dekap di depan dada, takut jatuh dan hilang karena sekarang itu adalah buku suci kami.

~ca~

The Fly..



Her name is Aysela...
^^

Like a Ball :D


Basitha Ryadila Iffari
Sahabat terkonyol yang pernah saya kenal ^^ .
Satu lagi ada yang namanya "Aysela Karlina Hersanti" {wanita yang ngga kalah konyol}, akan saya munculkan di foto yang berbeda.

Property by ~ ica :p