Dec 31, 2013

Atas Nama Buku Hijau

Saya belajar banyak hari itu, atas nama buku suci. Buku bersampul hijau yang menjadi awal guru kami, yang mengajarkan kami bagaimana mengahargai yang lebih tua, menghargai kaum wanita, dan mengenalkan arti persaudaraan, bukan sekadar persahabatan atau pertemanan. Dan kini buku hijau itu telah menjadi sejarah bagi kami, telah berlalu selama 6 tahun lebih. Empat tahun kebersamaan yang (buat saya) sangat berarti, tetapi tidak membuat saya ingin merasakan kembali saat-saat itu. Karena biar bagaiamanapun, dunia kerja lebih membuat saya tenang daripada masa pendidikan dahulu.

Masa kampus yang bermetodekan asrama membuat jarak saya dengan keluarga sejauh ratusan kilometer. Namun, dari jarak itulah saya kembali belajar arti hidup. Bagaimana hidup lebih mandiri dari sebelumnya dan dibandingkan dengan kedua kakak saya. Saya memang tidak lebih unggul dari teman-teman yang lain karena saya tahu bahwa masih banyak teman, senior, maupun junior yang memiliki perjuangan jauh lebih berat ketimbang saya. Namun, setidaknya saya belajar bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya selama ini...hingga 4 tahun pendidikan itu berlalu dengan hasil yang memuaskan bagi saya dan orang tua saya.

Sekarang yang menjadi target jangka pendek saya adalah menyelesaikan thesis untuk memperoleh gelar Magister Manajemen. Ini bukan sekadar untuk masa depan karir saya, tetapi jauh di lubuk hati saya adalah ingin memberikan contoh bagi keturunan saya kelak bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer dalam hidup. Selain itu pula, saya ingin membuat kedua orang tua saya lebih bangga lagi kepada anak-anaknya. Alhamdulillah..tinggal selangkah lagi saya menuju garis finish pasca sarjana. :)
Mudah-mudahan mendapat hasil yang tidak kalah memuaskan dibandingkan dengan kelulusan sarjana saya. Amiin..

0 comments:

Post a Comment